Selasa, 27 Desember 2016

Celanaku Hilang


Ketika kembali ke rumah, aku mengadu ke bapak, aku kehilangan banyak barang di pondok. Celana pendek, kaos, sandal, sabun, hingga kemeja. Aku akan mengadukan sebarapa geramnya aku kehilangan mereka.
Setelah mendengar penuturanku, bapak tak sekalipun mengalihkan pandangannnya dari halaman tempat kita berada. Beliau agaknya ogah-ogahan mendengar semua ini.
Aku mencari-cari hal lain agar bapak langsung tergerak untuk melihatku.
“Headseat-ku juga hilang, Pak.“
Bapak tak menggubris.
“Pak, peci yang kemarin bapak belikan juga hilang.”
Aku ditatapnya sejenak. Lalu melihat halaman lagi.
Mengapa bapak tak mempermasalahkannya? Apa karena beliau sudah mafhum dengan semua ini? Tapi setidaknya bertanya mengapa, atau apa,..
“Pak, karena barang-barangku hilang, semangat belajarku jeblok.” Aku menghela nafas. Akhirnya.
Reflek, segera dihabiskannya rokok yang ada di tangannya. Dimatikan, dan ditaruh di asbak depan kami.
“Kau tahu Sam, semua omonganmu itu kosong.” Bapak menatapku. Dalam diam aku mengalihkan pandangan.
Aku tercekat. Kenapa omonganku dibilang kosong? Aku tak habis fikir. Semua barang-barangku hilang bukan karena keteledoranku. Celana pendek awalnya kutaruh di jemuran. Aku mencucinya dengan baik. Nyatanya hilang. Sandal, aku meletakkannya di rak kamar. Tak tahu menahu tiba-tiba juga hilang. Aku bertanya pada cah kamar, mereka juga tak tahu. Headseat? Untuk barang yang satu ini aku sangat geram dengan kehilangannya. Headseatku ori, asli pabrik, bawaan hp OPPO-ku. Warnanya putih. Hilangnya di ruang lab saat aku ke kamar mandi sejenak. Aku sudah mengumumkannya. Tanya sana-sini. Tak ada yang tahu. Aih !
Apakah omonganku ini kosong? Bahkan bapak tak bertanya mengapa bisa hilang. Apa ini disebut kosong ?
“Seharusnya kau jangan bicara seperti itu.”
“Lho, apa salah aku mengadukan barang yang hilang, Pak?’’
“Bukan, bukan barang.”
“Lalu apa?“
“Selain yang itu...”
Lah-lah-lah.. aku mau dinasehati lagi..
“Iya Pak, aku selalu semangat belajar kok.”
“Bapak enggak akan memberi nasehat. Kamu pasti faham bagaimana menanggapi keluhanmu itu. Bapak akan senang kalau kau bertanya misalkan, kenapa orang-orang kuli nggak puasa di bulan Ramadhan, kenapa sopir-sopir kencing sembarangan, atau kenapa sopir bus sering ugal-ugalan. Bapak nggak akan tersinggung biarpun pernah seperti itu. Bapak akan jawab sejujurnya, apa yang bapak rasakan, dan bagaimana keadaan kala itu.”
“Kok gitu, Pak?”
“Sudahlah, kau beli lagi barang-barang mu yang hilang itu. Lain kali tanyalah yang bapak pernah lakukan. Yang bisa bapak jawab. Yang kau anggap salah. Yang bisa kau betulkan.”
Aih ! 




Jumat, 25 November 2016

Panggil Saja Aku

Kang,
Mas,
Cung,
Le,
Nang,
Ndes,
Bro,
Cuk,

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
 Aku tak akan marah jika kau benar-benar memanggil,

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan tersenyum jika kau akan memberi susu, gratis

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan tertawa jika kau melucu, meski kadang tak lucu

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan termenung jika kau menyiratkan kata yang kuanggap bijaksana, dari cerocohanmu
Aku akan membaikimu, membelikanmu susu, gratis

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Isikan apa yang kau tahu padaku, karena aku hanyalah gelas kosong
Susu, kopi, air putih tak apa,
Asalkan jangan air kencing.

Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan sangat-sangat berterima kasih jika kau menyapaku dengan senyuman, dengan cerocohan, dan dengan ke-akuan.

Panggil saja aku, jangan
Sapa aku dengan sesukamu, jangan
“Heh,”
Jangan itu !


Kamis, 24 November 2016

PEMBUKAAN


Sayang satu kali sayang. Bokir menghabiskan banyak uang untuk buku. Kata orang, bolehlah uang habis untuk keperluan yamg dianggap mulia ini. Dengan buku, orang dapat menguasai dunia. Dengan buku, orang dapat mengetahui budayaku dan budayamu. Dan dengan buku, kata teman saya, kita akan tampak selalu ada.
Namun permasalahannya adalah kenapa Bokir hingga membeli buku.  Dan bagaimana ia memperlakukan bukunya. Apakah ia telah melecehkan Hak Asasi Buku, dengan menelantarkannya? Saat saya bertanya kenapa ia menghabiskan uangnya untuk buku, padahal ia hanya menyentuhnya kala transaksi dengan bapak-bapak penjual buku, ia hanya menjawab suka. Kenapa kamu suka? Saya bertanya lagi.
“Kalau saya jawab, jawaban saya sama dengan jawaban orang-orang. Buku untuk menguasai dunia, buku sebagai alat pemberi tahu budayaku dan budayamu, dan bla, bla, bla, bla.”
“Namun Kenapa kamu menelantarkannya?”
“Terserah saya, uang-uang saya, buku-buku saya.”
“Apa ada faktor selain suka sehingga kamu membelikan uangmu untuk buku-buku yang kamu terlantarkan itu?”
“Enggak ada. Intinya saya suka.”
 ...
Begitulah Bokir, seorang yang menghabiskan uang untuk membeli buku. Barangkali ini cukup untuk membuka tulisan saya. Karena hal-hal yang baik, perlu pembukaan. Meski terkadang terkesan basa-basi.
Isi dari tulisan ini adalah, “Mohon maaf membuat anda bertanya-tanya dengan ketidaktahuan saya.”
Saya tutup.
Sudah.


Rabu, 23 November 2016

APA

Tulisan ini saya temukan di Lamongan. Saya lupa nama desanya. Kata teman saya, ini adalah Bengawan Solo.
Apakah kamu setuju dengan pemahaman saya, Dilarang Mencarikan Saru???

Hal Baru - Iwakpithek

HAL BARU

Hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah menemui hal baru. Saat menemukannya, saya terkesiap dan bangga minta ampun. Saya kabarkan kepada orang-orang bahwa hal yang saya temukan adalah seperti ini, seperti ini. Sebagian reaksi mereka ada yang seperti saya, ada yang biasa saja, dan ada yang diam supaya saya senang.Seperti rumah baru, saya melihat dari ruang ke ruang, dari berbagai sisi. rasanya senang.
Namun saya menargetkan punya beberapa ‘rumah’ yang ideal. Sialnya, keinginan ini terbentur oleh ego saya. Tidak mungkin membangun  beberapa rumah ideal dalam waktu yang singkat.
Sebentar, saya cek dulu dalam fikiran saya.
.....
Saya rasa bahan materialnya sudah ada. Tinggal sewa beberapa tukang untuk ini. Saya ingin fondasinya kokoh, saya ingin tiang-tiang penyangganya menjulang elok, saya ingin rumah saya sederhana namun elegan. Pokonya begitu.
 Saya rasa ini sangat berat mengingat banyak hal yang membuat pembangunan ini terhambat. Dan ,, ah, saya tak mau menjawabnya. Pokoknya saya ingin membangunnya. Itu dulu.
Saya ingin seperti bapak, yang mempunyai rumah sendiri berkat jerih payahnya. Masih teringat dalam benak kala pertama kali beliau melihat dari ruang tamu,-setelah rumah kami jadi- kamar tidur, hingga kamar mandi. Kala itu beliau terseyum. Senyum yang ,, pokoknya sesuatu banget. Padahal rumah kami terbilang sederhana. Tingkat dua juga tidak. Luas juga tidak. Pokoknya sederhana. Kami beradaptasi dengan rumah baru kami. Hari ini senang, besok senang, hingga lusa juga senang. Sehingga senang menurut kami adalah hal biasa. Dan itu membuat kami betah. Membuat kami nyaman.
Sebagai penutup di tulisan ini, saya berharap, semoga mendapat banyak hal baru, rumah baru, kesedihan dan kebahagiaan yang baru. Bagaimanapun bentuknya, asalkan hal baru itu membuat saya senang, betah, dan nyaman, saya akan menjadikannya sebagai bahan material untuk rumah-rumah saya kelak.

Iwakpithek. 

Rabu, 24 Agustus 2016

Disini dan Disana ada Kau dan Rindu
         
oleh ; Rifqimaulanaa

*)
Mengapa kau ada disini, sedangkan kau ada disana?
Mengapa kau disini saat aku terkadang berfikir kau benar-benar disini.
Mengapa semu di mata, jelas di dada.
Jujur, aku sedang ingin bersama yang disini. Bukan kau yang disana.
Kau berfikir seperti ini juga?
Ataukah tidak?

Ini Karena rindu
Mengapa otakku begitu lambat saat aku rindu?
Mengapa aku belum menyukai yang disini, jika kau disana yang kusukai.
Aku ingin dengan yang disini dulu,
Jangan marah !
Marahlah jika bertemu aku besok
Atau simpan saja marahmu pada orang lain.
Yang kau fikir dia selalu disana,
Padahal dia disini.





22 Agustus 2016