Sayang satu kali sayang. Bokir menghabiskan banyak uang
untuk buku. Kata orang, bolehlah uang habis untuk keperluan yamg dianggap mulia
ini. Dengan buku, orang dapat menguasai dunia. Dengan buku, orang dapat
mengetahui budayaku dan budayamu. Dan dengan buku, kata teman saya, kita akan tampak
selalu ada.
Namun permasalahannya adalah kenapa Bokir hingga membeli
buku. Dan bagaimana ia memperlakukan
bukunya. Apakah ia telah melecehkan Hak Asasi Buku, dengan menelantarkannya?
Saat saya bertanya kenapa ia menghabiskan uangnya untuk buku, padahal ia hanya
menyentuhnya kala transaksi dengan bapak-bapak penjual buku, ia hanya menjawab
suka. Kenapa kamu suka? Saya bertanya lagi.
“Kalau saya jawab, jawaban saya sama dengan jawaban orang-orang.
Buku untuk menguasai dunia, buku sebagai alat pemberi tahu budayaku dan
budayamu, dan bla, bla, bla, bla.”
“Namun Kenapa kamu menelantarkannya?”
“Terserah saya, uang-uang saya, buku-buku saya.”
“Apa ada faktor selain suka sehingga kamu membelikan uangmu
untuk buku-buku yang kamu terlantarkan itu?”
“Enggak ada. Intinya saya suka.”
...
Begitulah Bokir, seorang yang menghabiskan uang untuk
membeli buku. Barangkali ini cukup untuk membuka tulisan saya. Karena hal-hal
yang baik, perlu pembukaan. Meski terkadang terkesan basa-basi.
Isi dari tulisan ini adalah, “Mohon maaf membuat anda
bertanya-tanya dengan ketidaktahuan saya.”
Saya tutup.
Sudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar