Minggu, 27 November 2016
Jumat, 25 November 2016
Panggil Saja Aku
Kang,
Mas,
Cung,
Le,
Nang,
Ndes,
Bro,
Cuk,
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku tak akan marah
jika kau benar-benar memanggil,
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan tersenyum jika kau akan memberi susu, gratis
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan tertawa jika kau melucu, meski kadang tak lucu
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan termenung jika kau menyiratkan kata yang kuanggap
bijaksana, dari cerocohanmu
Aku akan membaikimu, membelikanmu susu, gratis
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Isikan apa yang kau tahu padaku, karena aku hanyalah gelas
kosong
Susu, kopi, air putih tak apa,
Asalkan jangan air kencing.
Panggil saja aku,
Sapa aku dengan sesukamu
Aku akan sangat-sangat berterima kasih jika kau menyapaku
dengan senyuman, dengan cerocohan, dan dengan ke-akuan.
Panggil saja aku, jangan
Sapa aku dengan sesukamu, jangan
“Heh,”
Jangan itu !
Kamis, 24 November 2016
PEMBUKAAN
Sayang satu kali sayang. Bokir menghabiskan banyak uang
untuk buku. Kata orang, bolehlah uang habis untuk keperluan yamg dianggap mulia
ini. Dengan buku, orang dapat menguasai dunia. Dengan buku, orang dapat
mengetahui budayaku dan budayamu. Dan dengan buku, kata teman saya, kita akan tampak
selalu ada.
Namun permasalahannya adalah kenapa Bokir hingga membeli
buku. Dan bagaimana ia memperlakukan
bukunya. Apakah ia telah melecehkan Hak Asasi Buku, dengan menelantarkannya?
Saat saya bertanya kenapa ia menghabiskan uangnya untuk buku, padahal ia hanya
menyentuhnya kala transaksi dengan bapak-bapak penjual buku, ia hanya menjawab
suka. Kenapa kamu suka? Saya bertanya lagi.
“Kalau saya jawab, jawaban saya sama dengan jawaban orang-orang.
Buku untuk menguasai dunia, buku sebagai alat pemberi tahu budayaku dan
budayamu, dan bla, bla, bla, bla.”
“Namun Kenapa kamu menelantarkannya?”
“Terserah saya, uang-uang saya, buku-buku saya.”
“Apa ada faktor selain suka sehingga kamu membelikan uangmu
untuk buku-buku yang kamu terlantarkan itu?”
“Enggak ada. Intinya saya suka.”
...
Begitulah Bokir, seorang yang menghabiskan uang untuk
membeli buku. Barangkali ini cukup untuk membuka tulisan saya. Karena hal-hal
yang baik, perlu pembukaan. Meski terkadang terkesan basa-basi.
Isi dari tulisan ini adalah, “Mohon maaf membuat anda
bertanya-tanya dengan ketidaktahuan saya.”
Saya tutup.
Sudah.
Rabu, 23 November 2016
APA
Tulisan ini saya temukan di Lamongan. Saya lupa nama desanya. Kata teman saya, ini adalah Bengawan Solo.
Apakah kamu setuju dengan pemahaman saya, Dilarang Mencarikan Saru???
Apakah kamu setuju dengan pemahaman saya, Dilarang Mencarikan Saru???
Hal Baru - Iwakpithek
HAL BARU
Hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah menemui hal
baru. Saat menemukannya, saya terkesiap dan bangga minta ampun. Saya kabarkan
kepada orang-orang bahwa hal yang saya temukan adalah seperti ini, seperti ini.
Sebagian reaksi mereka ada yang seperti saya, ada yang biasa saja, dan ada yang
diam supaya saya senang.Seperti rumah baru, saya melihat dari ruang ke ruang,
dari berbagai sisi. rasanya senang.
Namun saya menargetkan punya beberapa ‘rumah’ yang ideal. Sialnya,
keinginan ini terbentur oleh ego saya. Tidak mungkin membangun beberapa rumah ideal dalam waktu yang singkat.
Sebentar, saya cek dulu dalam fikiran saya.
.....
Saya rasa bahan materialnya sudah ada. Tinggal sewa beberapa
tukang untuk ini. Saya ingin fondasinya kokoh, saya ingin tiang-tiang
penyangganya menjulang elok, saya ingin rumah saya sederhana namun elegan. Pokonya
begitu.
Saya rasa ini sangat
berat mengingat banyak hal yang membuat pembangunan ini terhambat. Dan ,, ah,
saya tak mau menjawabnya. Pokoknya saya ingin membangunnya. Itu dulu.
Saya ingin seperti bapak, yang mempunyai rumah sendiri
berkat jerih payahnya. Masih teringat dalam benak kala pertama kali beliau
melihat dari ruang tamu,-setelah rumah kami jadi- kamar tidur, hingga kamar
mandi. Kala itu beliau terseyum. Senyum yang ,, pokoknya sesuatu banget. Padahal
rumah kami terbilang sederhana. Tingkat dua juga tidak. Luas juga tidak. Pokoknya
sederhana. Kami beradaptasi dengan rumah baru kami. Hari ini senang, besok
senang, hingga lusa juga senang. Sehingga senang menurut kami adalah hal biasa.
Dan itu membuat kami betah. Membuat kami nyaman.
Sebagai penutup di tulisan ini, saya berharap, semoga mendapat
banyak hal baru, rumah baru, kesedihan dan kebahagiaan yang baru. Bagaimanapun bentuknya,
asalkan hal baru itu membuat saya senang, betah, dan nyaman, saya akan
menjadikannya sebagai bahan material untuk rumah-rumah saya kelak.
Iwakpithek.
Langganan:
Postingan (Atom)
