Ketika kembali ke rumah, aku mengadu ke bapak, aku
kehilangan banyak barang di pondok. Celana pendek, kaos, sandal, sabun, hingga
kemeja. Aku akan mengadukan sebarapa geramnya aku kehilangan mereka.
Setelah mendengar penuturanku, bapak tak sekalipun
mengalihkan pandangannnya dari halaman tempat kita berada. Beliau agaknya
ogah-ogahan mendengar semua ini.
Aku mencari-cari hal lain agar bapak langsung tergerak untuk
melihatku.
“Headseat-ku juga hilang, Pak.“
Bapak tak menggubris.
“Pak, peci yang kemarin bapak belikan juga hilang.”
Aku ditatapnya sejenak. Lalu melihat halaman lagi.
Mengapa bapak tak mempermasalahkannya? Apa karena beliau
sudah mafhum dengan semua ini? Tapi setidaknya bertanya mengapa, atau apa,..
“Pak, karena barang-barangku hilang, semangat belajarku
jeblok.” Aku menghela nafas. Akhirnya.
Reflek, segera dihabiskannya rokok yang ada di tangannya.
Dimatikan, dan ditaruh di asbak depan kami.
“Kau tahu Sam, semua omonganmu itu kosong.” Bapak menatapku.
Dalam diam aku mengalihkan pandangan.
Aku tercekat. Kenapa omonganku dibilang kosong? Aku tak
habis fikir. Semua barang-barangku hilang bukan karena keteledoranku. Celana
pendek awalnya kutaruh di jemuran. Aku mencucinya dengan baik. Nyatanya hilang.
Sandal, aku meletakkannya di rak kamar. Tak tahu menahu tiba-tiba juga hilang.
Aku bertanya pada cah kamar, mereka juga tak tahu. Headseat? Untuk barang yang
satu ini aku sangat geram dengan kehilangannya. Headseatku ori, asli pabrik,
bawaan hp OPPO-ku. Warnanya putih. Hilangnya di ruang lab saat aku ke kamar
mandi sejenak. Aku sudah mengumumkannya. Tanya sana-sini. Tak ada yang tahu.
Aih !
Apakah omonganku ini kosong? Bahkan bapak tak bertanya
mengapa bisa hilang. Apa ini disebut kosong ?
“Seharusnya kau jangan bicara seperti itu.”
“Lho, apa salah aku mengadukan barang yang hilang, Pak?’’
“Bukan, bukan barang.”
“Lalu apa?“
“Selain yang itu...”
Lah-lah-lah.. aku mau dinasehati lagi..
“Iya Pak, aku selalu semangat belajar kok.”
“Bapak enggak akan memberi nasehat. Kamu pasti faham bagaimana
menanggapi keluhanmu itu. Bapak akan senang kalau kau bertanya misalkan, kenapa
orang-orang kuli nggak puasa di bulan Ramadhan, kenapa sopir-sopir kencing
sembarangan, atau kenapa sopir bus sering ugal-ugalan. Bapak nggak akan
tersinggung biarpun pernah seperti itu. Bapak akan jawab sejujurnya, apa yang
bapak rasakan, dan bagaimana keadaan kala itu.”
“Kok gitu, Pak?”
“Sudahlah, kau beli lagi barang-barang mu yang hilang itu.
Lain kali tanyalah yang bapak pernah lakukan. Yang bisa bapak jawab. Yang kau
anggap salah. Yang bisa kau betulkan.”
Aih !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar